Engkau yang mendatangkan cinta dan kasih itu
padaku, kau datang mencairkan hati ku yang beku hingga aku mengerti akan arti
rasa sayang.
Sikap biasa ku yang membuatmu ragu di awal rasa
itu terbenahi secara alam, tanpa paksaan hingga aku pun bisa menyayangimu
bahkan tak ragu untuk mempertaruhkan hidupku untuk mu.
Proses panjang untuk meyakinkan mu akan
kesungguhan rasa ku ini pada mu membuatku semakin yakin jika hati ku memang lah
menerima mu.
Hingga waktu berjalan tanpa terasa berbulan kita
bersama, perputaran waktu telah terjadi karena saat ini aku lah yang sangat
takut kehilangan dirimu, takut kehilangan cintamu.
Semakin lama kini semakin membuat aku seperti
orang gila, karena perasaanku yang sangat kuat terhadap mu, aku menjadi manusia
yang paling pencemburu di alam ini, sungguh aku takut kehilangan mu.
Sifat ku itu lah yang justru tidak engkau suka,
tapi itu lah perasaanku.
Aku mungkin hilang arah saat kau jauh, tapi
seperti apapun yang aku alami di luar sana, aku selalu mengingatmu, entah apa yang
ada di hati dan pikiranku, tapi yang ada hanyalah dirimu .
Aku memang tidak bermateri untuk membahagiakan mu,
tapi tubuh kecil ku ini bersedia untuk melindungi mu, menuruti mu dan menjadi
kuda untuk mu.
Engkau yang memilihku, dan kini kita saling memiliki.
Engkau wanita yang terindah yang pernah aku temui setelah aku sadar engkau
begitu berarti bagi hidupku.
Aku memilihmu, itu artinya aku rela berkorban
untukmu, menyayangi dan menjagamu karena kau hanya satu untukku dan aku
untukmu.
Aku memang pernah menyukai wanita lain sebelum
kamu, tapi kamu yang memenangkan hatiku, aku memilihmu untuk jadi kekasihku,
tapi itu masa lalu ku, dan kau pun memiliki masa lalu mu sendiri.
Dalam setiap hubungan pastilah akan ada selisih
paham atau apapun yang membuat kita bertengkar, tapi ketahuilah bahwa hati ku
tetaplah menyayangi mu, emosi itu hanya sesaat, dan aku sangat memahami itu,
sementara hubungan kita ini ku harap selamanya.
Disaat kita bertengkar dan kau mulai berbicara
serta bertindak semaunya, disaat aku tak bisa berbicara untuk menjelaskan yang
sebenarnya, disaat hanya dirimulah yang memonopoli pembicaraan, disaat
sebenarnya engkaulah yang melakukan kesalahan, mungkin disaat itulah aku
membencimu, tapi sebesar-besarnya rasa benci ku terhadapmu, masih jauh lebih
besar lagi rasa sayangku hingga menutupi semua rasa benci ku itu.
Dan hingga emosi ku tak terbendung lagi, aku lebih
memilih menyakiti diriku sendiri sebagai pelampiasan kekesalanku dari pada
harus menyakitimu secara fisik.
Tapi kekasihku tersayang, tak ingin ku tulis kisah
selanjutnya dan bagaimana prosesnya ini terjadi, pada saat ini kita telah
berpisah.
Kita telah berpisah.
Perpisahan yang membunuh segala partikel hati dan
pikiranku.
Tak ingin ku ceritakan lebih banyak lagi,
Apa yang aku harapkan kini adalah bisa melihatmu
bahagia, atau setidaknya aku mendengar kabar dari suara alam bahwa kini kau
bahagia disana.
Aku menyayangi mu dengan keseluruhan jiwa, hati,
pikiran dan tubuhku.
Bila memang pilihanmu membuat kamu jauh lebih baik
dan bersuka ria, maka aku pun akan mencoba ikhlas melepasmu demi tercapainya
bahagiamu tersebut.
Aku menyayangimu, aku ingin kamu bahagia, dan bila
dengan cara ini kamu bisa meraihnya, teruskanlah, dan akan ku lengkapi
kebahagaianmu dengan doa ku.
Mungkin Tuhan memisahkan kita karena Tuhan ingin
memberi yang jauh lebih baik dariku
untukmu dan sebaliknya.
Aku menyayangimu,
Yang terpenting bagiku saat ini adalah bahagia mu,
bukan kesedihanku.
Perasaanku ini tumbuh pada 4 Desember 2008 dan tak
pernah ku anggap berakhir.
Jika Tuhan mengizinkan, kita akan kembali bersatu
dan jika Tuhan berkehendak lain, mungkin Iya akan menggerakkan hatiku untuk wanita
lain karena aku pun tak ingin selalu sendiri, dan sebagai manusia tak akan
pernah sanggup untuk melawan kekuatan-Nya.